
Foto: Kesiapsiagaan personel dan armada Damkar TSE Group menjadi bagian dari langkah preventif perusahaan dalam menghadapi peningkatan risiko karhutla akibat kondisi kemarau ekstrem di Papua Selatan.
BOVEN DIGOEL – Fenomena El Niño yang melanda wilayah Papua Selatan selama lebih dari empat bulan terakhir telah memicu gelombang kekeringan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam satu dekade terakhir.
Vegetasi yang kering kerontang serta tiupan angin kencang menciptakan instabilitas lingkungan yang menempatkan kawasan ini dalam status siaga merah ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Karena itulah, sejak awal musim kemarau pada bulan Mei lalu, langkah mitigasi preventif telah digalakkan TSE Group secara konsisten melalui sosialisasi aturan hukum dan pencegahan Karhutla. Sosialisasi ini dilakukan oleh tim sustainability, tim Humas dan tim P2K3 (Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja) kepada karyawan di setiap unit usaha perkebunan milik TSE Group dan kepada masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional Perusahaan.
Tidak berhenti sampai di situ, saat ini seluruh personel DAMKAR bersama alat berat perusahaan pun telah disiagakan 24 jam penuh.
“Tim Damkar perusahaan melakukan patroli selama 24 jam di sekitar area Hak Guna Usaha (HGU) agar potensi kebakaran dapat segera ditangani dan penyebaran api dapat dikendalikan. Baru-baru ini, sejumlah titik api yang berasal dari luar area HGU merambat ke wilayah perkebunan. Kami pun segera melakukan penanganan untuk mencegah penyebaran api lebih lanjut,” ujar Arnol Tahir, Asisten Manager Damkar.
Di tengah kondisi tersebut, komitmen kemanusiaan tetap diutamakan oleh tim Damkar perusahaan yang dengan cepat mengerahkan armada dan personelnya untuk memadamkan api yang mendekati pemukiman warga, meskipun titik api tersebut berada di luar batas konsesi HGU perusahaan.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran tim Damkar perusahaan. Mereka selalu siap sedia, bahkan datang lebih dulu sebelum api membesar. Kalau bukan karena bantuan mereka, mungkin kebakaran bisa lebih luas dan merugikan warga,” jelas Jhon Doi, masyarakat Kampung Naga, Distrik Jair, Boven Digoel yang tinggal di dekat Jalan Trans Papua.
Kendati demikian, menghadapi ganasnya anomali iklim ini, kapasitas mandiri perusahaan tentu memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, manajemen TSE Group menyampaikan himbauan terbuka dan undangan kolaborasi erat kepada pemerintah daerah, instansi terkait, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengawal mitigasi Karhutla, meredam spekulasi yang tidak berdasar, dan memprioritaskan keselamatan serta kelestarian lingkungan hidup di Papua Selatan. (Humas)
