TSE Group, Carbon Standards International (CSI), dan International Biochar Initiative (IBI) telah meluncurkan proyek percontohan (pilot project) biomassa kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Dengan memanfaatkan sistem tanur (kiln) operasi berkelanjutan untuk memproses pirolisis residu berserat, proyek ini menetapkan kerangka kerja bersertifikat yang dapat diskalakan (scalable) untuk penyerapan karbon tahunan sebesar 32 juta ton.

TSE Group mengumumkan inisiatif percontohan kolaboratif ini bertujuan untuk mengonversi residu pertanian yang melimpah dari perkebunan kelapa sawit menjadi biochar berkualitas tinggi. Dikembangkan bersama CSI dan IBI, rincian resmi mengenai proyek ini akan dipaparkan pada ajang Biochar Summit 2026 mendatang di Wina, Austria. Kerangka operasional ini dirancang secara khusus untuk diintegrasikan ke dalam lanskap perkebunan tropis di seluruh wilayah Indonesia dan Malaysia, dengan fokus pada optimalisasi material yang belum dimanfaatkan secara maksimal seperti Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) dan Batang Pohon Kelapa Sawit (OPT). Melalui pembentukan sistem produksi dan akuntansi yang terverifikasi, koalisi ini berupaya membangun paradigma yang memiliki tingkat replikasi tinggi (highly reproducible) untuk manajemen karbon skala besar di sektor pertanian Asia Tenggara.

Tantangan mendasar yang diatasi oleh inisiatif multi-organisasi ini adalah hambatan besar dalam pengelolaan limbah (waste-management bottleneck) serta liabilitas karbon terkait dengan industri manufaktur kelapa sawit regional. Perkebunan di Indonesia dan Malaysia diperkirakan menghasilkan 140 million metrik ton residu biomassa yang tidak terpakai setiap tahunnya. Secara historis, sebagian besar material ini dibuang hingga membusuk atau dibakar di lahan terbuka, sehingga berkontribusi langsung terhadap emisi gas rumah kaca dan polusi udara lokal. Teknologi pemrosesan termal konvensional senantiasa gagal menangani sumber daya spesifik ini karena karakteristik fisik dari produk sekunder pertanian tropis tersebut. Kandungan air yang tinggi serta struktur berserat yang kompleks dari residu kelapa sawit menyebabkan kegagalan mekanis (mechanical fouling) yang cepat dan ketidakefektifan termal pada reaktor standar, yang selama ini menghambat valuasi skala industri dari limbah tersebut.

Untuk mengatasi hambatan teknik historis tersebut, TSE Group mengembangkan sistem tanur pirolisis operasi berkelanjutan yang dioptimalkan untuk bahan baku tropis berserat dan berkadar air tinggi. Desain akhir proyek ini diselesaikan melalui koordinasi dengan sebuah perusahaan rekayasa teknik di Korea Selatan dan ReCORD, sebuah lembaga penelitian energi bersih yang berbasis di University of Florence. Dengan memodifikasi pra-perlakuan bahan baku (feed pre-treatment) dan waktu retensi termal (thermal residence times), tanur hasil rekayasa ini mampu mempertahankan operasi berkelanjutan tanpa memerlukan modifikasi infrastruktur eksternal, pembangunan jalan baru, maupun penanaman pohon tambahan. Lebih lanjut, guna mengatasi kurangnya akuntansi karbon korporat yang ketat dalam regulasi pertanian tropis, grup ini mengintegrasikan standar karbon industri dari CSI untuk memverifikasi stabilitas dan kualitas material akhir secara sistematis.

Operasionalisasi kerangka kerja percontohan ini membuka jalur yang jelas menuju penyerapan karbon dioksida (carbon dioxide removal/CDR) berskala besar yang dapat diverifikasi serta manajemen sumber daya berbasis ekonomi sirkular (circular resource management). Transisi dari 140 juta ton limbah regional ini ke dalam rantai produksi pirolisis khusus menghadirkan potensi hasil maksimum sekitar 32 juta metrik ton penyerapan karbon dioksida yang tahan lama (durable CDR) setiap tahunnya. Penerapan sistem ini di tingkat lokal mampu mengeliminasi emisi dari pembakaran terbuka dan mengembalikan matriks karbon yang stabil ke tanah tropis regional, sehingga meningkatkan ketahanan sektor pertanian. Dalam skala pasar, perolehan sertifikasi resmi dari CSI menyediakan kerangka kerja verifikasi yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan registri penyerapan karbon internasional, sekaligus menjembatani kesenjangan antara pusat komoditas pertanian tropis utama dengan pasar komoditas lingkungan global.

Sumber: biochartoday.com

Published On: Juni 4, 2026
Mungkin Anda tertarik dengan berita ini

Share This Story, Choose Your Platform!

Berita Terbaru
  • Published On: Juni 4, 2026
  • Published On: Mei 26, 2026
  • Published On: Mei 26, 2026